Kamis, 18 November 2010

Dampak dari Liberalisasi Perdagangan Pertanian Indonesia - China Terhadap Produksi dan Ekspor Pertanian di Indonesia

Analisis Jurnal

Tema : Liberalisasi Perdagangan Pertanian Indonesia-China
Judul : Dampak dari Liberalisasi Perdagangan Pertanian Indonesia-China Terhadap Produksi dan Ekspor Pertanian di Indonesia
Pengarang : Tulus Tambunan
                   Universitas Trisakti
                   Januari 2010


Latar Belakang 

Pertanian merupakan sektor kunci bagi banyak penelitian mengenai kemiskinan di negara-negara terbelakang atau negara-negara yang sedang berkembang (NSB), termasuk Indonesia.
Sebagian besar penduduk miskin Indonesia tinggal di pedesaan dan bekerja sebagai petani. Makanan merupakan komponen pengeluaran terbesar bagi keluarga-keluarga miskin. Oleh sebab itu, kesepakatan liberalisasi perdagangan untuk komoditas-komoditas pertanian antara China dan Indonesia ; Area Perdagangan Bebas (FTA) ASEAN. China pasti akan membawa sebuah dampak signifikan tidak hanya pada pertanian tetapi juga terhadap kemiskinan di Indonesia.
Dampaknya bisa positif dan juga negatif. Karena sebagian besar penduduk miskin di Indonesia tinggal di pedesaan dan bekerja di sektor pertanian. Jadi mungkin saja kesepakatan ASEAN_China tersebut merugikan Indonesia dalam arti produk-produk pertanian Indonesia kalah saing dengan produk-produl serupa dari China atau negara-negara ASEAN lainnya.

Masalah dan Tujuan

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah di dalam penelitian ini sebagai berikut :
1) Apa dampak dari kesepakatan China dengan Indonesia di dalam kesepakatan China-AFTA tersebut terhadap produksi dan ekspor pertanian Indonesia?
2) Bagaimana daya saing pertanian Indonesia terhadap pertanian China?
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji apakah kesepakatan ASEAN-China FTA tersebut menguntungkan Indonesia, khususnya sektor pertanian.

Metodologi

Terdapat dua metode dalam penelitian ini yaitu pertama, untuk menganalisis  daya saing perdagangan Indonesia dibandingkan dengan China untuk komoditas-komoditas yang masuk di dalam EHP menggunakan indeks revealed comparative advantage (RCA) dan indeks spesialisasi perdagangan (TSI). Kedua, untuk menganalisis efek-efek dari liberalisasi perdagangan pertanian antara kedua negara tersebut, mengadopsi suatu pendekatan simulasi dengan menggunakan dua model penghitungan keseimbangan umum, yaitu Model Simulasi Kebijakan Perdagangan Pertanian (ATPSM) versi 3.1 (2006) dan proyek analisis Perdagangan Global (GTAP) 2005. Model penelitian ini sendiri menggunakan gambar dan matematis.

Hasil dan Analisis

A) Perdagangan
Salah satu pesaing berat Indonesia saat ini adalah China, dan untuk bisa memprediksi apakah China-AFTA akan merugikan atau menguntungkan Indonesia dalam perdagangan pertanian, melihat bagaimana perdagangan pertanian antara kedua negara tersebut selama ini menjadi sangat penting.
Dalam beberapa tahun belakangan ini posisi Indonesia dalam perdagangan pertanian dunia semakin tergeser oleh China. Pergeseran tersebut tidak hanya disebabkan oleh menurunnya daya saing komoditas pertanian Indonesia relatif dibandingkan dengan China, tetapi juga oleh keterbatasan kapasitas produksi pertanian di dalan negeri. Bahkan dipercaya bahwa untuk sejumlah komoditas pertanian selain padi, Indonesia hingga saat ini masih menghadapi banyak kendala dalam meningkatkan kapasitas produksinya. Misalnya untuk buah-buahan dan sayur-sayuran, data yang ada untuk periode akhir dekade 70-an hingga tahun-tahun awal abad ke 21 menunjukkan bahwa produksi di Indonesia jauh lebih rendah daripada China.
Selama ini China merupakan salah satu mitra dagang Indonesia yang sangat penting untuk kedua komoditas tersebut. Data yang ada menunjukkan bahwa posisi Indonesia relatif lemah dibandingkan China. Untuk sayur-sayuran, kondisi Indonesia lebih buruk lagi. Jika data yang digunakan ini bisa dipercaya kekuratannya, Indonesia hanya impor tetapi tidak ekspor. Volume impornya mengalami suatu peningkatanyang sangat signifikan pada tahun 2004. Untuk buah-buahan, Indonesia lebih banyak impor daripada ekspor ke China ; bahkan dalam beberapa tahun belakangan ini, volume impor Indonesia dari China cenderung naik terus.

Melihat Indonesia lebih banyak impor daripada ekspor untuk banyak komoditas pertanian yang juga tercakup di dalam kesepakatan tersebut, termasuk sayur-sayuran dan buah-buahan, rasanya Indonesia akan lebih dirugikan daripada diuntungkan oleh China-AFTA tersebut. Terutama lagi melihat kenyataan bahwa sebagian petani Indonesia adalah petani miskin skala kecil (gurem), yang bagi mereka sangat sulit sekali untuk dapat meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas dari komoditas-komoditas yang mereka hasilkan. Padahal sering dikatakan dalam literatur bahwa liberlaisasi perdagangan membuka peluang besar lebih besar bagi negara-negara yang terlibat, dan dalam China-AFTA ini, berarti peluang pasar ekspor ke China bagi petani-petani Indonesia. Tetapi tentu selain kemampuan mereka untuk meningkatkan produksi, petani-petani Indonesia juga harus bersaing dengan China dan negara-negara ASEAN lainnya.

B) Daya Saing
Selain produksi dan ekspor meningkat, juga umum diasumsikan bahwa modernisasi pertanian akan menghasilkan peningkatan kualitas dari produk-produk pertanian. Salah satu indikator yang umum digunakan dalam mengkaji tingkat daya saing global dari suatu produk adalah Keunggulan Komparatif yang Kelihatan, atau umum disebut Revealed Competitive Advantage (RCA). Indeks ini untuk sebuah produk menunjukkan kemampuan negara bersangkutan untuk meningkatkan pangsanya di pasar internasional. Nilai RCA lebih besar dari satu (!) menandakan bahwa negara tersebut memiliki suatu keunggulan komparatif dalam membuat produk bersangkutan di dalam pasar global. Sebaliknya, nilainya lebih kecil dari satu menandakan kebalikannya. Indikator daya saing lainnya yang juga umum digunakan adalah Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Indeks ini menggambarkan kecenderungan suatu negara sebagai net eksportir (volume/nilai ekspor lebih besar daripada volume/nilai impor) atau net importir (volume/nilai impor lebih besar daripada volume/nilai ekspor). Jika nilai ISP adalah antara lebih besar dari 0,5 dan mendekati 1 , artinya negara bersangkutan cenderung menjadi net eksportir, dan jika nilainya lebih besar dari -0,5 dan mendekati -1 , negara itu cenderung lebihj banyak mengimpor daripada mengekspor (atau sama sekali tidak melakukan ekspor).

Kesimpulan

Tujuan utama dari penelitian ini adalah sederhana, yakni untuk memprediksi apakah Indonesia akan mendapatkan manfaat positif dari pelaksanaan China_AFTA, sebagai bagian penting dari kesepakatan kerjasama antara China dan negara-negara anggota ASEAN. Khususnya dalam kasus ini adalah perdagangan pertanian. Manfaat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peningkatan ekspor (atau ekspor net) dan produksi.
Berbagai permasalahan yang hingga saat ini dihadapi sektor pertanian di dalam negeri juga sudah diketahui umum seperti lahan pertanian semakin sempit, harga input (seperti pupuk, benih dan pestisida) sering tidak stabil atau bahkan stoknya sering hilang di pasaran, harga output sering merugikan petani-petani yang membuat mereka tidak bersemangat/berkeinginan untuk mrningkatkan produktifitas, keterbatasan teknologi ( khususnya tidak ada kerjasama yang baik antara pertanian dan lembaga-lembaga pengembangan dan penelitian/litbang dan perguruan-perguruan tinggi), pertanian masih dianaktirikan oleh perbankan dan lembaga-lembaga keuangan lainnya yang membuat petani sulit mendapatkan modal, keterbatasan infrastruktur, terutama yang menghubumngi sentra-sentra produksi dengan pusat-pusat pasar, distorsi-distorsi di dalam proses distribusi, dan kebijakan-kebijakan ekonomi makro maupun meso (sektoral) yang tidak berpihak kepada pertanian.
Tanpa adanya upaya-upaya yang serius dan konkrit, tidak haya dari pemerintah tetapi juga dari swasta dan masyarakat secara umum, untuk menghilangkan permasalahan-permasalahan tersebut, pertanian Indonesia akan dirugikan di dalam setiap perdagangan bebas, termasuk di dalam konteks China-AFTA.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar