Kamis, 02 Desember 2010

Pengaruh Bencana Alam Terhadap Inflasi

Negara Indonesia tak habis-habisnya dilanda bencana besar, terlebih-lebih akhir-khir ini Indonesia seperti diselimuti kabut tebal. Tak hanya menjadi topik hangat dalam negeri tapi meluas ke luar negeri. Bencana besar ditambah lagi keadaan perekonomian dalam negeri saat ini yang kurang mendukung membuat sejumlah masyarakat resah.

Letusan gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta memakan korban jiwa yang cukup banyak disamping merusak rumah-rumah penduduk, tempat usaha, sawah-sawah penduduk khususnya mereka yang tinggal di daerah kaki gunung. Mereka yang kehilangan harta benda dan juga tempat tinggal terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian, sementara itu mereka hanya bisa memperoleh kebutuhan sehari-hari termasuk makanan dan minuman dari bantuan pemerintah dan bantuan para masyarakat Indonesia yang peduli akan nasib mereka.

Akibat bencana tersebut, sejumlah pasar ditutup sehingga pasar di daerah Sleman tersebut tidak dapat beroperasi seperti biasanya. Padahal banyak diantara masyarakat Sleman yang menggantungkan hidupnya dengan berjualan di pasar. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, pemasokan barang untuk para korban/pengungsi menjadi sulit karena jalan menuju tempat pengungsian menjadi sulit dijangkauakibat kabut, hujan abu yang menganggu kendaraan melaju. Keadaan ini membuat para pengungsi kekurangan bahan makanan dikarenakan distribusi yang tidak berjalan dengan lancar.

Demikian juga dengan para petani yang berladang di bawah kaki gunung, mereka kehilangan lhan dan sulit untuk kembali bekerja. Kalau keadaannya sudah seperti ini, perlahan akan mempengaruhi perekonomian lokal khususnya daerah Yogyakarta. Transportasi menuju tempat pengungsian menjadi sulit, para petani kehilangn lahan, beberapa pasar ditutup, dan banyak pula penduduk yang kehilangan tempat tinggal. Bagi daerah Sleman, keadaan ini sangat memperburuk kenyamanan kegiatan ekonomi daerah dan nantnya akan berimbaske berbagai daerah di sekitar Jawa Tengah. Lalu lintas udarapun menjadi terganggu karena asap tebal yang dikeluarkan oleh merapi.

Secara tidak langsung,bencana ini tidak akan mempengaruhi inflasi namun berpengaruh besar terhadap operasi ekonomi lokal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ;
JAKARTA--MICOM: Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan banyaknya kejadian bencana alam yang melanda Indonesia, akhir-akhir ini, tidak mempengaruhi besaran laju inflasi.

"Dalam konteks nasional maupun lokal (bencana alam) tidak berpengaruh besar dalam hitungan kita, dampak terhadap inflasi," ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (1/11).

Ia mengatakan, kalaupun ada dampak signifikan kenaikan harga yang dapat menyebabkan inflasi, itu hanya bersifat lokal, bukan berdampak secara nasional.

Bahkan, menurut dia, di berbagai kawasan bencana alam seperti Mentawai tidak ada transaksi jual beli, karena wilayah tersebut telah bergantung kepada bantuan sosial.

"Di Mentawai bukan karena kenaikan harga, namun transaksi saja tidak ada, karena memang ekonominya lumpuh jadi konsumsi itu mengandalkan pada bantuan, jadi tidak ada transaksi harga di pasar," ujarnya.

Rusman juga mengatakan tidak memberikan tekanan terhadap inflasi pada kawasan yang terkena bencana, karena tidak masuk dalam wilayah yang diperhitungkan tingkat inflasinya oleh BPS.

Apalagi, selain itu, wilayah tersebut bukan merupakan kantong produksi untuk nasional.

"Harus proporsional melihat dampak bencana. Inflasi disebabkan oleh suplai, kedua distribusi. Yang kena bencana di tiga wilayah itu bukan wilayah yang menjadi kantong produksi yang menyebabkan kekurangan shortage," ujarnya.

Dalam sebulan terakhir, terdapat tiga bencana alam melanda di Indonesia, yaitu longsor di Wasior, Papua Barat, tsunami di Mentawai, Sumatera Barat dan letusan Gunung Merapi di Yogyakarta.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulan Oktober mencapai 0,06 persen.

Dengan demikian inflasi tahun kalender selama Januari hingga Oktober sebesar 5,35 persen, sedangkan inflasi  dibandingkan tahun lalu sebesar 5,67 persen atau turun dari sebelumnya 0,19 persen.

2 komentar:

  1. 2. Pada saat ini terjadi fenomena global warming. Akibatnya suhu permukaan laut naik dan cuaca di berbagai belahan dunia (termasuk indonesia) menjadi tidak ramah, seperti ditunjukkan oleh lebih sering terjadinya badai seperti la nina, el nino, dan musim hujan/kemarau menjadi tidak teratur dan berkepanjangan. Tahap awal dari dampak negatif tersebut akan dirasakan oleh usaha disektor pertanian, yang pada akhirnya diasumsikan akan berpengaruh negatif terhadap produktifitas kinerja ekonomi secara nasional

    BalasHapus
  2. setuju dengan pernyataan Ridho..fenomena global warming mungkin bisa menaruh dampak negatif produktifitas kinerja ekonomi secara nasional namun prosesnya akan berjalan secara perlahan. Sehingga perlu antisipasi aktif dari sekarang supaya masyarakat khususnya mereka yang hidup dengan mata pencaharian sebagai petani tidak terlalu khawatir akan isu global warning. Dengan demikian mereka tetap bisa melakukan aktifitas mereka tanpa harus 'mengingat" adanya ancaman global warning..

    BalasHapus